Jangan sia-siakan kesempatan SEMOGA SUKSES!

Kamis, 19 April 2012

KISAH SALURAN PIPA

Tahun 1801, di sebuah lembah di Italia


Ada 2 orang saudara sepupu yang sangat ambisius. Satu bernama Pablo, satunya Bruno. Mereka tinggal berdampingan di sebuah desa kecil di Italia.
Kedua anak muda itu sangat berkualitas. Mereka pun memiliki cita-cita tinggi. Mereka sering berkhayal bagaimana kalau suatu hari nanti mereka menjadi orang terkaya di desanya. Keduanya orang yang sangat cemerlang dan amat tekun bekerja. Yang mereka perlukan adalah peluang.
Suatu hari peluang itu datang. Kepala desa memutuskan untuk mempekerjakan 2 orang untuk membawa air dari sungai ke sebuah penampungan air di tengah desa. Pekerjaan itu dipercayakan kepada Pablo dan Bruno.
Keduanya masing-masing membawa 2 buah ember dan segera menuju ke sungai. Menjelang sore, keduanya telah mengisi penampungan air sampai mencapai permukaannya. Kepala desa menggaji mereka masing-masing berdasarkan jumlah ember air yang mereka bawa.
“Wah, ini berarti cita-cita kita terkabul!” seru Bruno. “Saya tidak bisa percaya kita bisa mendapat rezeki sebanyak ini.”
Tetapi Pablo tidak ingin yakin begitu saja. Punggungnya nyeri dan kedua telapak tangannya lecet-lecet. Itu akibat ia membawa 2 buah ember yang berat. Keesokan paginya, ia merasa takut saat harus pergi kerja. Karena itu, ia berpikir keras mencari akal bagaimana membawa air dari sungai ke desanya.

Pablo, Manusia Saluran Pipa






“Bruno, saya punya rencana,” kata Pablo esok harinya saat mereka mengambil ember-ember dan berangkat menuju sungai. “Daripada kita mondar-mandir membawa-bawa ember hanya untuk mendapatkan beberapa penny per hari, kenapa kita tidak sekalian saja membuat sebuah saluran dari sungai ke desa kita?”
Bruno menghentikan langkahnya seketika.
“Saluran pipa! Ide dari mana itu?” seru Bruno. “Kita kan sudah memunyai pekerjaan yang sangat bagus, Pablo. Saya bisa membawa 100 ember sehari. Dengan upah 1 penny per ember, berarti penghasilan kita bisa 1 dollar per hari! Saya akan jadi orang kaya! Dan pada akhir minggu, saya bisa membeli sepatu baru.
Pada akhir bulan, saya bisa membeli seekor sapi, dan pada akhir bulan keenam, saya sudah bisa membangun sebuah gubuk baru. Tidak ada pekerjaan semenguntungkan ini di desa ini. Pada akhir minggu kita dapat libur. Dan setiap tahun, kita juga berhak cuti selama 2 minggu dengan gaji utuh. Kita akan memiliki kehidupan yang layak! Jadi, buang jauh-jauh pikiran untuk membangun saluran pipa itu.”
Tapi Pablo tidak mudah putus asa. Ia dengan sabar menerangkan rencana pembuatan saluran pipanya kepada sahabatnya itu. Akhirnya Pablo memutuskan untuk bekerja paruh waktu. Ia tetap bekerja mengangkut ember-ember air. Separuh waktunya dan di akhir minggu dia luangkan untuk membangun saluran pipanya.
Dari awal, dia sudah menyadari bahwa akan sangat sulit baginya untuk menggali saluran di tanah yang mengandung batu karang itu. Ia pun menyadari, karena upahnya berdasarkan jumlah ember yang diangkutnya, penghasilannya pun otomatis menurun.
Dia paham benar bahwa dibutuhkan waktu 1 atau bahkan 2 tahun sebelum saluran pipanya bisa menghasilkan sesuatu yang berarti. Tetapi Pablo yakin akan impian dan cita-citanya. Karena itu, dia terus giat bekerja.
Bruno dan orang-orang desa lainnya mulai mengejek Pablo. Mereka menyebutnya “Pablo si manusia saluran pipa.” Bruno yang berpenghasilan hampir 2 kali lipat daripada Pablo terus membangga-banggakan barang-barang baru yang telah berhasil dibelinya.
Dia sudah membeli seekor keledai yang dilengkapi dengan sadel kulit yang baru. Dia memarkir keledai barunya di samping gubuk barunya yang terdiri dari 2 lantai. Dia juga membeli baju-baju indah dan bisa makan mewah di kedai.
Orang-orang di desa menyebutnya “Mr. Bruno.” Mereka selalu menyambutnya kalau dia menraktrir mereka minum-minum di bar dan ikut tertawa-tawa saat dia menceritakan lelucon-leluconnya.

Tindakan-Tindakan Kecil Membuahkan Hasil Yang Besar

Sementara Bruno berbaring santai di jaring gantung (hammock) di sore hari, pada akhir minggu, Pablo terus saja menggali saluran pipanya. Pada bulan-bulan pertama, Pablo memang tidak bisa menunjukkan hasil dari usahanya. Pekerjaannya memang sangat berat. Bahkan lebih berat daripada pekerjaan Bruno, karena Pablo juga harus bekerja pada malam hari, begitu juga di akhir minggu.
Tapi Pablo selalu mengingatkan diri sendiri bahwa cita-cita masa depan itu sesungguhnya dibangun atas dasar perjuangan yang dilakukan hari ini. Dari hari ke hari dia terus menggali. Inci per inci.
“Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit,” katanya sambil bersenandung saat dia mengayunkan cangkulnya pada tanah yang mengandung batu karang. Dari satu inci menjadi satu kaki, kemudian menjadi 10 kaki, kemudian menjadi 20 kaki, lalu 100 kaki dst…
“Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian,” kata-kata itulah yang selalu dicamkan pada dirinya sendiri saat dia kembali ke gubuknya yang sederhana. Tubuhnya amat lelah setelah seharian bekerja. Dia sudah bisa memperkirakan keberhasilan yang akan dicapainya.
Caranya adalah setiap hari dia menetapkan sasaran yang akan dicapainya hari itu. Lalu dia akan berusaha untuk mencapainya. Dia juga selalu yakin bahwa lama kelamaan hasil yang dicapainya itu akan jauh lebih besar daripada perjuangan yang dilakukannya.
“Fokuslah selalu pada imbalan yang akan diperoleh,” kata-kata itu senantiasa ia ulang-ulang saat dia pergi tidur. Sementara dari bar di desa itu terdengar gelak tawa mengiringinya kea lam mimpi.
“Fokuslah selalu pada imbalan yang akan diperoleh…”

Keadaan Menjadi Terbalik

Hari berganti bulan. Pada suatu hari, Pablo menyadari bahwa saluran pipanya sudah setengah jadi. Berarti, dia hanya perlu berjalan setengahnya dari jarak yang biasa dia tempuh untuk mengisi ember-embernya. Dan waktu yang tersisa digunakannya untuk menyelesaikan saluran pipanya. Saat-saat penyelesaian saluran pipanya pun semakin dekat.
Saat beristirahat, Pablo menyaksikan sahabatnya Bruno yang terus saja mengangkut ember-ember. Bahu Bruno tampak semakin lama semakin membungkuk. Dia menyeringai kesakitan, langkahnya semakin lamban akibat kerja keras setiap hari.
Bruno merasa sedih dan kecewa karena dia menyadari bahwa dia “ditakdirkan” untuk terus mengangkut ember-ember setiap hari sepanjang hidupnya.
Dia semakin jarang bersantai-santai di tempat tidur gantungnya. Dia lebih sering terlihat di bar. Saat pengunjung bar melihat Bruno, mereka saling berbisik, “Nah, ini dia Bruno si manusia ember,” dan mereka tersenyum geli saat beberapa orang mabuk meniru postur tubuh Bruno yang sudah bungkuk dan cara jalannya yang terseok-seok.
Bruno tidak lagi suka menraktir minum teman-temannya atau menceritakan lagi lelucon-lelucon. Dia lebih suka duduk sendiri di sudut yang gelap ditemani botol-botol kosong di sekelilingnya.
Akhirnya, saat bahagia Pablo pun tiba. Saluran pipanya sudah rampung! Orang-orang desa berkumpul saat air mulai mengalir dari saluran pipanya menuju penampungan air di desa. Sekarang, desa itu sudah bisa mendapat pasokan air bersih secara tetap.
Bahkan orang-orang yang semula tinggal di sekeliling desa tersebut sengaja pindah kesana. Desa itu pun kemudian terus tumbuh dan semakin makmur.
Setelah saluran pipa itu selesai, Pablo tidak perlu lagi membawa-bawa ember. Airnya akan terus mengalir, baik dia sedang bekerja maupun tidak. Air itu mengalir saat dia makan dan saat dia tidur. Air itu mengalir di akhir minggu ketika dia asyik bermain. Semakin banyak air yang mengalir ke desa itu, semakin banyak pula uang yang mengalir ke kantong Pablo.
Pablo yang tadinya terkenal dengan julukan Pablo si Manusia Saluran Pipa sekarang jadi lebih terkenal dengan sebutan Pablo si Manusia Ajaib. Para politisi memujinya karena memunyai visi yang baik. Mereka bahkan memintanya agar mencalonkan diri sebagai walikota.
Tapi Pablo paham sekali bahwa apa yang dia capai bukanlah sebuah keajaiban. Ini hanyalah langkah awal dari pencapaian suatu cita-cita besar. Memang benar. Nyatanya Pablo memiliki rencana yang jauh lebih besar daripada yang dia sudah laksanakan di desanya.
Pablo berencana membangun saluran pipa di seluruh dunia!

Mengajak Temannya Membantu

Saluran pipa membuat Bruno si Manusia Ember kehilangan pekerjaannya. Pablo merasa sangat prihatin melihat sahabatnya itu sampai harus mengemis-ngemis minuman di bar. Karena itulah Pablo berencana menemui Bruno.
“Bruno, saya datang kesini untuk meminta bantuanmu.”
Bruno meluruskan bahunya yang bengkok. Matanya yang tampak kelam pun mengecil. “Jangan menghina saya ya,” katanya.
“Tidak, saya datang kesini bukan untuk menghinamu,” kata Pablo. “Justru saya mau menawarkan peluang bisnis yang amat bagus. Dua tahun lamanya saya bekerja untuk bisa menyelesaikan pembangunan pipa saya yang pertama. Tapi, dalam masa 2 tahun itu saya belajar banyak hal.
Saya jadi tahu alat-alat apa saja yang harus digunakan. Saya jadi lebih paham di tempat mana saja sebaiknya saya harus mencangkul dan menggali. Saya juga mengerti di mana saja sebaiknya pipa-pipa itu harus dipasang.
Dan selama saya bekerja, saya juga rajin mencatat mengenai semua itu. Karena itu, sekarang ini saya sudah mampu mengembangkan suatu cara yang lebih baik untuk membangun saluran-saluran pipa lainnya.
Sebetulnya, bisa saja saya membangun saluran pipa itu sendirian dalam waktu setahun. Tetapi rasanya, untuk apa saya menghabiskan waktu 1 tahun hanya untuk membangun 1 saluran pipa itu. Rencana saya adalah mengajari kamu dan yang lainnya cara-cara membangun pipa.
Nantinya, kamu dan yang lainnya itu mengajari lagi orang-orang baru lainnya. Begitu seterusnya… sampai suatu saat nanti setiap desa di wilayah ini memiliki saluran pipa. Lalu, saluran pipa ini menyebar ke setiap desa di negara kita. Dan bahkan akhirnya, pipa-pipa ini akan ada di setiap desa di seluruh dunia!”
“Coba saja kamu renungkan,” kata Pablo melanjutkan, “Kita nantinya bisa mengutip sejumlah uang untuk setiap galon air yang dialirkan melalui saluran-saluran pipa air itu. Semakin banyak air yang mengalir melalui saluran-saluran pipa, semakin banyak uang yang akan masuk ke kantong kita. Pipa yang baru saya buat ini sebenarnya bukanlah akhir dari suatu cita-cita. Justru pipa saya itu merupakan awal dari cita-cita.”
Akhirnya Bruno menyadari juga betapa besar potensi bisnis yang ditawarkan sahabatnya itu. Dia tersenyum sambil mengasongkan tangannya yang lecet-lecet itu kepada sahabatnya. Mereka berjabatan tangan kemudian berpelukan. Bagaikan 2 orang sahabat lama yang sudah lama tidak berjumpa.

Peluang Usaha Saluran Pipa di Dunia Yang Didominasi Pembawa Ember

Tahun-tahun pun berlalu. Pablo dan Bruno sudah lama pension. Usaha saluran pipanya yang mendunia terus saja mengalirkan ratusan juta dollar setahun melalui rekening bank mereka. Ketika mereka berjalan-jalan di desa, kadang-kadang mereka melihat beberapa pemuda. Mereka tampak sibuk mengangkut air dengan ember.
Kedua sahabat dari masa kecil itu lalu mengajak berbincang-bincang para pemuda itu. Mereka menceritakan kisah hidup mereka. Lalu, mereka pun menawarkan bantuan mereka untuk membangun saluran pipa.
Tetapi, hanya sedikit yang mau mendengarkan nasehat mereka dan bersedia meraih peluang untuk melakukan usaha di saluran pipa ini. Kebanyakan pengangkut ember itu langsung menolak tawaran itu. Pablo dan Bruno juga sering mendengar alasan-alasan yang mereka ungkapkan.
“Saya tidak ada waktu.” “Teman saya bilang bahwa dia kenal orang yang berusaha untuk membangun saluran pipa tetapi ternyata gagal.” “Cuma mereka yang lebih dulu terjun di usaha saluran pipa ini yang akhirnya bisa sukses.” “Seumur hidup saya pekerjaan saya adalah mengangkut ember. Saya ingin tetap mempertahankan profesi saya ini.” “Saya tahu ada orang-orang yang akhirnya merugi gara-gara usaha saluran pipa. Saya tidak mau hal itu terjadi pada diri saya.”
Pablo dan Bruno benar-benar merasa prihatin bahwa banyak sekali orang yang tidak punya visi. Tetapi akhirnya mereka pasrah saja.
Mereka sadar bahwa mereka hidup di dunia yang masih didominasi oleh mental pembawa ember itu. Hanya sedikit persentase orang yang berani berambisi untuk mencapai kesuksesan melalui usaha saluran pipa.
KLIK DISINI UNTUK DAPATKAN EBOOKNYA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar